Logo Website Annajah
Search

Isim Dzonna wa Akhwatuha: Definisi, Fungsi, Anggota, Ciri, Rumus dan Contohnya

isim dzonna wa akhwatuha dan contohnya

Table of Contents

Ada beberapa amil yang bisa masuk dalam jumlah ismiyah (susunan kalimat dalam Bahasa Arab yang terdiri dari mubtada’ dan khobar). Salah satunya adalah Dzonna wa Akhwatuha atau Dzonna dan saudaranya. Bagaimana penggunaan Dzonna dan saudaranya ini? Berikut penjelasan selengkapnya.

Apa Itu Isim Dzonna wa Akhwatuha?

Secara bahasa, Dzonna wa Akhwatuha bisa diartikan sebagai Dzonna dan saudaranya. Dzonna dan saudaranya ini merupakan salah satu amil yang bisa dimasukan dalam jumlah ismiyah.

Fungsinya adalah menashobkan mubtada’ dan pada khobar. Hal ini tentu berbeda dengan fungsi amil lain seperti Kana yang hanya menashabkan khobar dan Inna yang hanya menashabkan mubtada’. Dzonna dan saudaranya justru menashabkan keduanya, baik mubtada’ maupun khobar.

Mubtada’ dan khobar merupakan maf’ul dari Dzonna sehingga dibaca dengan nashab. Hal ini sesuai dengan nadhoman berikut.

اِنْصِبْ بِظَنَّ الْمُبْتَدَا مَعَ الْخَبَرْ وَكُلِّ فِعْلٍ بَعْدَهَاعَلَى الْأَثَرْ

Artinya: Nashobkanlah pada mubtada’ dan khobar, dan setiap fi’il sesudahnya setelah asar. Dzonna (ظَنَّ) dan saudaranya menashabkan mubtada’dan khobar yang juga menjadi maf’ul bagi keduanya.

Anggota isim Dzonna wa Akhwatuha

Sesuai namanya, Dzonna wa Akhwatuha terdiri dari Dzonna (ظَنَّ) dan saudara-saudaranya. Anggota dari isim Dzonna dan saudara terbagi dalam Af’aalull Quluub dan Af’aal Tahwil.

Kata Dzonna atau mengira, menyangka disebut sebagai Af’aalul Qulub karena memiliki makna yang berkaitan dengan sesuatu yang bersumber dari hati. Af’aalul Qulub berfaedah yakin (meyakinkan khobar)

Penggunaan lainnya, Dzonna termasuk Af’aalul tahwil yang bermakna mengubah dari suatu keadaan ke keadaan yang lain. Semua kata kerja yang termasuk Af’aalul Tahwil memiliki arti syuyyiro atau menjadikan. Berikut anggota dari Dzonna dan saudaranya.

  1.     Dzonna (ظَنَّ)

Dzonna (ظَنَّ) artinya menyangka, mengira. Contoh Dzonna (ظَنَّ) dalam Al-Quran terdapat pada lafadz berikut.

فَقَالَ لَهُ فِرْعَوْنُ إِنِّي لَأَظُنُّكَ يَا مُوسَى مَسْحُورًا

Artinya: Lalu Fir’aun berkata kepadanya “Sesungguhnya aku sangka kamu, Hai Musa, seorang yang kena sihir”.

Pada penggalan kalimat ini dhomri (كَ) dan (مَسْحُورًا) berkedudukan sebagai nashab karena keduanya menjadi maf’ul dari Dzonna.

Pada kondisi lain, Dzonna juga digunakan untuk pernyataan yakin. Contohnya pada kalimat berikut.

الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلَاقُو رَبِّهِمْ

Artinya: (yaitu) orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya.

  1.     Hasiba (حَسِبَ)

Hasiba (حَسِبَ) artinya aku telah mengira. Contohnya kalimah dalam Al-Quran yang memiliki hasiba yaitu:

حَسبْتُ حَامدًا صَادِقًا

Artinya: Aku mengira Hamid itu jujur.

Kata (حَامدًا) dan (صَادِقًا) berkedudukan nashab karena menjadi maf’ul dari lafadz hasiba (حَسِبَ).

وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ

Artinya: “Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allah lali dari apa yang diperbuat oleh orang-rang yang zalim.

Pada penggalan ayat ini, kata yang di’rabi nashab adalah (اللَّهَ) dan (غَافِلًا)

  1.     Khola (خَالَ)

Khola (خَالَ) artinya aku membayangkan, aku menduga

خلْتُ اُسْتَاذًا حَاضرًا

Artinya: Aku membayangkan pak guru itu hadir

Maf’ul dari Khola (خَالَ) pada kalimat ini adalah (حَاضرًا) dan (اُسْتَاذًا) yang keduanya menjadi I’rab nashab.

  1.     Za’ama (زَعَمَ)

Za’ama (زَعَمَ) artinya aku telah menduga dengan yakin

زَعَمَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنْ لَنْ يُبْعَثُوا

Artinya: orang-orang yang kafir mengira bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan.

Maf’ul dari Za’ama (زَعَمَ) pada kalimat ini adalah (الَّذِينَ) dan (كَفَرُوا) yang hukum I’rabnya menjadi nashab.

  1.     Ro’a (رَأَى)

Ro’a (رَأَى) memiliki faedah melihat

رَاَيْتُ اَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا وَّالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ

Artinya: aku (bermimpi) melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan.

Maf’ul dari Ro’a (رَأَى) pada kalimat ini adalah (اَحَدَ عَشَرَ) dan (كَوْكَبًا ) yang memiliki I’rab nashab.

  1.     ‘Alima (عَلِمَ)

‘Alima (عَلِمَ) memiliki arti mengetahui, seperti pada kalimat (عَلِمْتُ خَالِدًا تَاجِرًا) yang artinya “Aku ahu Kholid itu seorang pedagang.

  1.     It-Takhodza (اتَّخَذَ)

Anggota Dzonna wa Akhwatuha yang It-Takhodza (اتَّخَذَ) memiliki arti menjadikan, seperti pada kalimat berikut.

اتخذت طالبَ العلم صديقاً

Artinya: Aku jadikan penuntut ilmu itu sebagai teman

  1.     Ja’ala (جَعَلَ)

Ja’ala (جَعَلَ) memiliki arti menjadikan, seperti pada penggalan ayat Al-Quran berikut.

جَعَلَ اللّٰهُ الْكَعْبَةَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ قِيٰمًا لِّلنَّاسِ

Artinya: Allah telah menjadikan Ka’bah rumah suci tempat manusia berkumpul.

Dua maf’ul dari Ja’ala (جَعَلَ) pada ayat ini adalah (قِيٰمًا ) dan (الْكَعْبَةَ) yang menjadi beri’rab nashab.

  1.     Sami’a (سَمِعَ)

Sami’a memiliki arti mendengar, seperti pada kalimat سَمِعْتُ مُحَمَّدًا مَرِيْضًا yang artinya “aku mendengar bahwa Muhammad sakit”.

  1. Wajada (وَجَدَ)

Wajada (وَجَدَ) memiliki arti mendapati, sehingga kalimat ini bisa berfaedah yaqiin atau meyakinkan khobar.

وَوَجَدَكَ ضَاۤلًّا فَهَدٰىۖ

Artinya: dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk.

Dhomir (كَ) dan (ضَاۤلًّا ) yang menjadi beri’rab nashab karena merupakan maf’ul dari wajada (وَجَدَ)

Contoh-Contoh Isim Dzonna wa Akhwatuha

Dzonna dan saudaranya dapat memiliki arti mengira, menduga, mengetahui, mendengar, atau menjadikan. Tergantung dari kata Dzonna yang dipakai. Lebih jelasnya berikut beberapa contoh isim Dzonna dan saudaranya.

  1.     Contoh kalimat dengan dhonna (ظَنَّ)

Lafadz (ظَنَّ) memiliki arti menyangka atau memperkirakan. Pada penggunaannya, (ظَنَّ) dapat berubah menjadi dhonanna (ظَنَنْنَا) untuk dhomir nahnu (نَحْنُ ) atau kami dan berubah menjadi dhonantu (ظَنَنْتُ) untuk dhomir anna (اَنَا ) atau saya.

  •         Contoh 1

ظَنَنْنَا مُحَمَّدًا اُسْتَاذًا فِى هَذِهِ الْمَسْجِدِ

Artinya: kami menyangka Muhammad adalah guru di masjid ini.

Dhona menashabkan mubtada’ dan khobar sehingga kata Muhammadun menjadi Muhammadan (مُحَمَّدًا) dan Ustadzun menjadi Ustradzan (اُسْتَاذًا).

  •         Contoh 2

ظَنَنْتُ زَيْدًا مُدَرِّسًا مِنَ الْقَرْيَتِكَ

Artinya: saya mengira Zaid adalah seorang pengajar dari desa Anda

Setelah dhona menashabkan mubtada’ dan khobar, maka kata Zaidun menjadi Zaidan (زَيْدًا) dan Mudarrisun menjadi Mudarissan (مُدَرِّسًا).

  1.     Contoh kalimat dengan ja’ala (جَعَلَ)

Lafadz Dzonna wa Akhwatuha berupa ja’ala (جَعَلَ) ini juga bisa berubah tergantung dari dhomir. Dhomir anna (اَنَا ), maka menggunakan ja’altu (جعَلْتُ), untuk dhomir nahnu (نَحْنُ ) menjadi ja’alna (جعَلْنَا), menjadi aj’al (اِجْعَلْ) jika menjadi fi’il amr.

  •         Contoh 1

اِجْعَلْ هَذَا الْبَيْتَ مَسْجِدًا

Artinya: jadikanlah rumah ini sebagai masjid.

Maf’ul dari ja’ala (جَعَلَ) ini ada pada kata baita dan masjidan. Nashab pada kata masjidun menjadi masjidan (مَسْجِدًا) dan baitun menjadi baitan (الْبَيْتَ).

  •         Contoh 2

وَاجْعَلْهُ لَنَا إِمَامًا وَنُورًا وَهُدًا وَرَحْمَةً

Artinya: jadikanlah Al-Quran bagi kami pemimpin, cahaya, petunjuk, dan rohmat.

Maf’ul dari ja’ala (جَعَلَ) ini ada pada kata imaman (إِمَامًا), nuron (نُورًا), hudan (هُدًا), dan rohmatan (رَحْمَةً) yang menjadi beri’rab nashab.

  1.     Contoh kalimat dengan roa (رَأَى)

Lafadz roa (رَأَى) bisa memiliki arti melihat, menyangka, atau menyakini. Roa dapat berubah menjadi roaina (رَأَيْنَا) untuk dhomir nahnu (نَحْنُ) dan roaitu (رَأَيْتُ) untuk dhomir anna (اَنَا ).

  •         Contoh 1

رَأَيْتُ نِسَاءً فِى الْبَيْتِهِ

Artinya: saya telah melihat wanita di rumahnya.

Maf’ul dari roa (رَأَى) ini yaitu pada kata nisa un menjadi nisa an (نِسَاءً)

  •         Contoh 2

رَأَيْتُ رَّجُلًا هُنَاكَ 

Artinya: saya telah melihat lelaki di sana

Maf’ul dari roa (رَأَى) ini yaitu pada kata rojulun yang berubah menjadi rojulan (رَّجُلًا).

Itulah ulasan mengenai Dzonna wa Akhwatuha atau Dzonna dan saudaranya beserta contohnya. 

Baca juga artikel mengenai Isim Kana wa Akhwatuha