Logo Website Annajah
Search

Inilah Biografi Lengkap Pengarang Kitab Tijan Ad Durori!

Inilah Biografi Lengkap Pengarang Kitab Tijan Ad Durori!

Table of Contents

Ada berbagai kitab yang masyhur di kalangan umat Islam, terutama kalangan pondok pesantren, seperti kitab Tijan Ad-Durori. Pengarang kitab Tijan Ad Durori yaitu Syekh Muhammad Nawawi Al Bantani, yang merupakan penjelasan atau syarat dari kitab risalah Fi Ilmi Tauhid yang ditulis oleh Imam Ibrahim Al-Bajuri. Kitab tersebut klasik yang menjelaskan tentang ketauhidan dengan mengenal 20 sifat wajib dan sifat mustahil Allah SWT.

Para ulama sangat menganjurkan umat Islam untuk mengenal sifat-sifat Allah karena di berbagai keterangan dijelaskan bahwa, “Barang siapa mengenal dirinya, maka dia mengenal Tuhannya.” Untuk itu penting mengetahui pengarang dari kitab Tijan Ad Durori serta dengan apa saja yang dibahas di dalamnya.

Kisah Masa Kecil dan Tempat Kelahiran Pangeran Kitab Tijan Ad Durori

Syekh Nawawi Al Bantani merupakan ulama Indonesia yang bertaraf internasional, yang mana beliau merupakan Imam Masjidil Haram. Beliau bergelar Al Bantani karena asalnya dari Banten Indonesia dan termasuk ulama serta intelektual yang produktif dalam menulis Kitab.

Bahkan kitab karya Syekh Nawawi Al Bantani sekurang-kurangnya ada 115 kitab dengan berbagai bidang mulai dari ilmu fiqih, tasawuf, tauhid, tafsir, dan hadits. Salah satu kitab tauhid beliau adalah kitab Tijan Ad Durori yang banyak dipelajari di berbagai pesantren di Indonesia.

Muhammad Nawawi bin Umar bin Arabi Al Bantani lahir di Desa Tanara, desa kecil yang berada di Kecamatan Tirtayasa (Tanara), Kabupaten Serang, Banten, pada tahun 1230 H/1815 M.

Beliau merupakan anak pertama dari tujuh bersaudara dan beliau merupakan keturunan Rasulullah Muhammad SAW dengan nasab melalui jalur Kesultanan Banten.

Saat berusia 5 tahun, pengarang kitab Tijan Ad Durori ini mulai menimba ilmu agama bersama saudara-saudaranya dengan ayah kandungnya. Ayahnya mengajari tentang pengetahuan dasar bahasa Arab, tauhid, fiqih, Alquran dan tafsir.

Kemudian saat usia 8 tahun, Syekh Nawawi bersama dua adiknya, Tamim dan Ahmad, berguru kepada seorang ulama yaitu K.H. Sahal yang saat itu merupakan ulama masyhur di Banten. Lalu ia juga berguru kepada Syekh Baing Yusuf Purwakarta.

Saat usianya hendak 15 tahun, Syekh Nawawi Al Bantani mulai mengajar banyak orang, bahkan ia mengunjungi berbagai tempat di pesisir sehingga bisa mengejar murid-murid yang kian meningkat setiap harinya.

Barulah saat usianya genap 15 tahun, beliau pergi ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji lalu menimba ilmu kepada sejumlah ulama masyhur di kota suci tersebut.

Setelah menimba ilmu agama selama 3 tahun di Mekah, kemudian Syekh Nawawi Al Bantani kembali ke Banten sekitar tahun 1828 M. Beliau berdakwah mengelilingi Banten dengan mengobarkan semangat dalam melawan praktik ketidakadilan di masa penjajahan.

Beliau mulai dikenal namanya dan masyhur saat menetap di Syi’ib Ali, Mekkah. Saat kembali ke Banten, dia juga aktif mengejar di halaman rumahnya yang awalnya jumlah murid hanya puluhan, tetapi seiring berjalannya waktu banyak murid yang datang dari berbagai penjuru dunia.

Hingga saat ini, pengarang kitab Tijan Ad Durori tersebut dihormati sebagai ulama yang piawai dalam berbagai bidang ilmu agama mulai dari ilmu fiqih, tauhid, tafsir, dan tasawuf.

Kemudian beliau semakin masyhur saat ditunjuk menjadi imam Masjidil Haram menggantikan Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi.

Tidak sekedar di Kota Mekah dan Madinah bahkan beliau juga dikenal di berbagai negara seperti Hindustan, Mesir, Suriah, dan Turki.

Kitab Tijan Ad Darori Membahas Tentang?

Kitab Tijan Ad Daruri merupakan kitab tauhid yang menjelaskan tentang beberapa hal berikut ini.

Sifat Wajib dan Mustahil Allah

Selain 20 sifat wajib dan mustahil Allah tersebut para ulama pun menyebutkan bahwa terdapat satu sifat yang boleh dimiliki oleh Allah, yakni sifat Jaiz. Dengan sifat jaiz tersebut maka segala hal tergantung kepada Allah, akan menciptakan sesuatu atau tidak.

Menurut Syekh Al-Bajuri, penulis syarah dari kitab Tijan Ad Durori, sebagaimana yang telah ditulis oleh Syekh Nawawi bahwa sifat wajib dan sifat mustahil Allah harus diketahui oleh setiap muslim.

Oleh karena itu, para ulama menganjurkan umat muslim untuk mengenal sifat-sifat Allah.

Dalam kitab ini, 20 sifat Allah tersebut diterangkan dalam empat bagian.

1. Sifat Nafsiyah

Pertama yaitu sifat nafsiah atau jiwa yang mana sifat ini menunjukkan tentang keberadaan Allah. Keberadaan Allah bisa dirasakan dengan adanya alam semesta dan segala hal yang diciptakan-Nya.

2. Sifat Salbiyah

Sifat salbiyah yaitu meniadakan hal lain dari keberadaan Allah. Misalnya sifat qidam, bako, mukhalafatuh lilhawadist, qiyamuhuu binafsih, dan wahdaniyah.

3. Sifat Ma’ani

Dalam kitab tersebut dijelaskan bahwa sifat ma’ani yaitu menetapkan bahwa makna wujud Allah yang pasti menetap di dzat-Nya sesuai kesempurnaan Allah. Sifat tersebut ada 7 yaitu qudrat, iradah, ilmu, hayat, sama’, bashor, dan kalam.

4. Sifat Ma’nawiyah

Terakhir yaitu sifat ma’nawiyah yaitu sifat yang bernisbah di sifat ma’ani. Disebut sebagai maknawiyah karena sifat tersebut melekat di sifat ma’ani, yaitu qudrat, iradah, ilmu, hayat, sama’, bashor, dan kalam.

Sifat Rasul

Tidak hanya membahas sifat wajib, mustahil, dan jaiz Allah, karena di Pengarang Kitab Tijan Ad Durori ini juga membahas tentang sifat para nabi dan rasul di dalam kitab ini.

Disebutkan di dalam kitab tersebut bahwa rasul memiliki empat sifat wajib yaitu sebagai berikut.

          Siddiq artinya jujur

          Amanah artinya dapat dipercaya

          Tabligh artinya menyampaikan

          Fathonah artinya cerdas

Sedangkan untuk sifat mustahil Rasul juga ada empat yang merupakan kebalikan dari sifat wajib Rasul yaitu sebagai berikut.

          Kidzib artinya berbohong

          Khianat artinya tidak dapat dipercaya

          Kitman artinya menyembunyikan

          Baladah artinya bodoh

Sementara itu juga terdapat sifat jaiz atau sifat yang boleh dimiliki oleh para nabi dan rasul seperti halnya sifat yang bisa terjadi pada manusia. Namun sifat-sifat tersebut tidak menyebabkan pengurangan dari kedudukan atau martabat sebagai nabi dan rasul yang mulia.

Nasab Rasulullah SAW

Dalam kitab Tijad Ad Durori diterangkan tentang nasab dari Rasulullah SAW hingga ke kakek buyutnya. Begitu juga dengan ibu Rasulullah, yang mana kedua orang tua Rasulullah bertemu pada nasab Kilab bin Mar’ah bin Ka’ab bin Luay.

Demikian pula dengan keturunan Rasulullah SAW yang dikaruniai tujuh putra dan putri. Mereka bernama Qosim, Zaenab, Rukayah, Fatimah, Ummu Kaltsum, Abdullah, dan Ibrohim. Keturunan Rasulullah SAW tersebut lahir dari Sayyidah Khadijah bin Khuwailid r.a.

Dibandingkan kitab tauhid lainnya, kitab ini terbilang tipis, karena hanya hitungan puluhan halaman dengan materi tauhid yang dilengkapi dengan dalil dan argumentasi.

Pengarang Kitab Tijan Ad Durori, Syekh Nawawi Al Bantani, sengaja menulis Kitab ini dengan penjelasan yang mudah dipahami sehingga para pembacanya dapat bertauhid menggunakan logika yang berkesinambungan.

Bahkan ketika menjelaskan Salah satu sifat Allah, pasti akan dikaitkan dengan sifat Allah lainnya. Misalnya saat menjelaskan tentang kekuasaan Allah Syekh Nawawi Al Bantani memberikan argumen yang bisa diterima oleh logika seperti berikut ini.

“Allah itu berkuasa, karena jika Allah SWT tak berkuasa, maka Allah tidak dapat menciptakan alam semesta ini, padahal pada kenyataannya alam semesta ini sudah tercipta. Jadi kesimpulannya, Allah itu berkuasa dan mustahil jika Allah tidak berkuasa.”

Itulah penjelasan tentang pengarang kitab Tijan Ad Durori dan apa saja isinya. Sangat penting bagi umat Islam untuk belajar kitab tauhid ini bersama dengan guru yang menguasainya. Bagaimanapun juga, belajar Kitab tauhid itu penting karena ini menjadi hal yang paling dasar bagi umat Islam, yaitu ketauhidan.

Baca juga Pengarang kitab talimul mutaalim