close
Dauroh Tahsin Tahfidz Ramadhan
Logo Website Annajah
Search

Isim Hal: Definisi, Anggota, Syarat, Jenis, hingga Contohnya

penjelasan isim hal dalam bahasa arab dan contoh isim hal dalam bahasa arab

Table of Contents

Dalam ilmu nahwu atau tata bahasa Arab, ada berbagai jenis isim atau kata benda yang dapat kita temukan. Salah satunya, yakni Isim Hal. Apakah itu dan seperti apa bentuk contohnya? Yuk simak ulasannya berikut.

Apa Itu Isim Hal dalam Ilmu Nahwu

Sejatinya ada beberapa definisi yang dikemukakan para ahli mengenai Hal. Misalnya dalam kitab Jurumiyah yang mendefinisikan Hal sebagai isim yang beri’rab manshub untuk menafsirkan apa yang tersamarkan dari suatu bentuk atau keadaan.

Hal juga dapat diartikan sebagai sesuatu yang berada di atas sesuatu di mana kalimat tersebut menjelaskan keadaan yang masih samar dan statusnya dalam kalimat sebagai keterangan tambahan.

Secara garis besar, hal merupakan kalimat isim nakiroh yang dinasabkan, berfungsi untuk menjelaskan kesamaran keadaan fa’il dan mafi’l bil sewaktu terjadi suatu pekerjaan yang menimbulkan pertanyaan “Bagaimana” (فѧآي).

Dalam istilah tata bahasa Arab, Hal berarti keadaan pada waktu kata kerja utama terjadi sehingga hal berkedudukan sebagai kata kerja kedua setelah fi’il yang berfungsi sebagai kata kerja utama.

Contohnya seperti pada kalimat خطب محمد قائم (Muhammad berkhotbah dengan berdiri). Secara sepintas, kalimat tersebut memiliki dua kata kerja, yakni “berkhotbah” dan “berdiri” meskipun sebenarnya, قائما adalah kalimat isim.

Anggota Isim Hal

Dari beberapa pengertian di atas, dapat dilihat jika Isim Hal dalam bahasa Arab sejatinya memiliki sejumlah ciri sehingga suatu kata atau kalimat dapat digolongkan ke dalam Hal. Adapun ciri-ciri yang dimaksud di antaranya:

  1. Harus berupa isim sifat, baik yang berupa isim fa’il maupun isim maf’ul. Atau bisa juga berupa syibh al-jumlah.
  2. Hal juga perlu menimbulkan pertanyaan “Bagaimana”. Terlebih, Hal inilah yang menjadi jawaban atas pertanyaan tersebut.
  3. Dibaca nashab dengan fathah.
  4. Hal juga bersifat menerangkan keadaan, terutama ketika suatu pekerjaan sedang terjadi.
  5. Pembentukan Hal dilakukan dari isim nakiroh dan isim musytaq.

Syarat-Syarat Isim Hal

Secara umum, ada empat syarat yang harus dimiliki sebuah Isim Hal, seperti yang ditulis dalam buku Jami’ al-Durus. Berikut empat syarat yang dimaksud.

1. Bersifat isim sifat yang tidak tetap

Sebuah Hal harus berupa keadaan atau sifat yang melekat pada shahib al-hal di mana sifat ini dapat berubah atau berpindah-pindah. Terkadang, Hal terbentuk dari isim sifat yang tetap atau melekat pada shabib al-hal yang tidak pernah berubah. Contohnya pada kalimat berikut.

يريد االله أن يخفّف عنكم وخلق الأنسان ضعيفا

Yang berarti “Allah hendak memberi keringanan kepadamu dan manusia dijadikan bersifat (dalam keadaan) lemah,” (Q. S. al-Nisâ [4]: 28). Dalam kalimat tersebut, keadaan lemah yang disandang oleh manusia tidak akan pernah berubah sampai kapan pun.

2. Hal juga harus berupa isim nakiroh

Apabila terdiri dari isim ma’rifat, maka Hal harus di-ta’wil menjadi isim nakiroh. Meskipun ada Hal yang terdiri dari isim ma’rifat, sejatinya itu hanya lafadz-nya saja sementara maknanya tidak berubah.

Contohnya pada kalimat

ذهبت فا طمة الى السوق وحدها اي منفردة

“Fatima pergi ke pasar sendirian”

3. Sifat atau keadaan pantas dan logis

Dengan demikian, kata-kata atau isim terdapat pada shahib al-hal yang cenderung masuk akal. Kita lihat pada kalimat berikut.

يفر أسد باآيا

“Singa berlari sambil menangis”

Ternyata, kalimat di atas kurang logis karena sifat atau keadaan yang melekat tidak menunjukkan hal yang masuk akal, yakni singa yang menangis.

4. Hal wajib terdiri dari isim musytaq (dapat ditasrif)

Musytaq sendiri memiliki arti jadian yang terbentuk dari kata lain. Apabila ada Hal yang terdiri dari isim jamid, maka isim tersebut harus di-ta’wil menjadi isim musytaq.

Selain itu, jika Isim Hal terdiri dari jumlah ismiyah atau jumlah fi’liyah yang didahului oleh preposisi qad dan tidak ada damir terutama yang kembali pada shahib al-hal, maka isim tersebut wajib menggunakan wawu atau yang kerap disebut wawu haliyah.

Jenis-jenis Isim Hal

Dalam pengklasifikasiannya, Hal umumnya terbagi menjadi lima jenis, yakni hal mufrad, hal jumlah ismiyah, hal jumlah fi’liyah, hal zaraf, dan hal jar majrur. Berikut penjelasannya.

1. Hal mufrad (tingkat kata)

Mufrad memiliki arti kata tunggal (tidak lebih dari satu). Dengan demikian, hal mufrad merupakan hal yang terdiri dari isim mufrad atau satu kata saja. Contohnya pada kalimat:

لا تأكل الطعام الساخن

“Jangan makan makanan dalam keadaan panas”

2. Hal jumlah ismiyah

Jumlah ismiyah menandakan jumlah mubtada dan khobar yang terdiri dari N1 (mubtada) + N2 (khabar) dan biasa diiringi dengan wawu haliyah. Contohnya pada kalimat:

لاتأ آل الفاآهة وهي فجة

“Jangan kamu makan buah dalam keadaan masih mentah”

3. Hal jumlah fi’liyah

Dalam jenis ini, Hal terdiri dari fi’il dan fa’il, baik fi’il mudori’ maupun fi’il madi. Jika terdiri dari fi’il madi, maka disyaratkan dibarengi oleh huruf wawu haliyah dan huruf qad. Contohnya dalam kalimat

غاب أخوك وقد حضر جميع الأصدقاء

“Kakakmu tidak hadir sedangkan teman-temanmu hadir”

4. Hal zaraf

Terdiri dari zaraf makan (keterangan tempat) maupun zaraf zaman (keterangan waktu). Jika dirumuskan, Hal zaraf ini terdiri dari frase preposisi + N1. Contohnya seperti pada kalimat berikut.

شهدت أخي بين المصلين

“Aku menyaksikan saudaraku ada di antara orang-orang shalih”

5. Hal jar majrur

Pada jenis Isim Hal ini, konstruksinya terdiri dari jar majrur di mana huruf jar merupakan huruf tertentu yang membuat isim menjadi majrur. Misalnya pada kalimat

فخرج على قومه في زينته قال ربّ نجّني من القوم الظّالمين

yang merupakan kutipan dari Q. S. al-Qasas [28]: 21 dan berarti Musa keluar dari kota itu dengan rasa takut, dengan khawatir, ia berdoa “Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang lalim.”

Contoh Isim Hal dalam Al-Quran

Jika dibandingkan dengan bahasa Indonesia, Hal memiliki beberapa padanan yang cenderung lebih mudah kita pahami. Misalnya dengan padanan keterangan “cara” seperti pada contoh يفر خالد مسرعا “Khalid berlari sekencang-kencangnya.”

Hal juga dapat dipadankan dengan kata penghubung “sambil” atau “seraya” yang fungsinya menggabungkan pernyataan keadaan dengan unsur kalimat keterangan. Contohnya pada kalimat

الذين يذ آرون االله قيا ما وقعود ا ويتفكرون في السموات و الأرضخلق

“Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi,” (Q.S. Al-Imran [3]: 191).

Padanan lain yang juga sering kita ketahui seperti kata yang terdiri dari imbuhan “ter + kata dasar” yang menyatakan keadaan. Imbuhan ter- ini berfungsi membentuk kata kerja pasif yang menyataan kondisi suatu hal. Misalnya:

نام محمد مطمئنا

“Muhammad tidur dengan nyenyak”

Itulah beberapa penjelasan mengenai Isim Hal dari segi definisi, jenis, hingga contohnya. Semoga informasinya senantiasa bermanfaat, ya!

Pelajari juga Isim Na’at Man’ut: Definisi, Fungsi, Anggota, Ciri, Rumus dan Contohnya