close
Dauroh Tahsin Tahfidz Ramadhan
Logo Website Annajah
Search

Hadits Muallaq: Pengertian, Macam dan Contohnya

Table of Contents

Hadits muallaq merupakan hadits yang tergolong dhaif (lemah) sehingga tidak cukup menjadi pedoman dan dasar. Untuk lebih mudah dalam memahami tentang hadis ini berikut akan dijelaskan secara singkat mengenai pengertian dan contoh dari hadis muallaq.

Apa itu Hadits Muallaq?

Muallaq secara bahasa yaitu tergolong isim maf’ul yang berasal dari kata ‘alaqa (عَلَّقَ) yang artinya tergantung dan terikat. Disebut dengan istilah muallaq karena hadits ini memiliki sanad yang sebatas terikat dan tersambung di bagian atasnya saja, sedangkan untuk bagian bawahnya terputus. Hal ini diumpamakan seperti halnya sesuatu yang bergantung di atap.

Menurut istilah, hadis muallaq memiliki pengertian sebagai berikut.

مَا حُذِفَ مِنْ مُبْتَدَأِ إِسْنَادِهِ رَاوٍ فَأَكْثَرَ وَلَوْ إِلَى آخِرِ اْلإِسْنَادِ

Artinya: “Hadis yang dari awal sanadnya dihilangkan seorang perawi atau lebih, seterusnya sampai akhir sanad,” (Dr. Mahmud Al-Thahhan).

Sedangkan dalam Kitab Minhatul Mughits, hadits muallaq memiliki pengertian berikut.

ما سقط منه راو أو أكثر على التوالى من أوّل السند سواء سقط الباقى أم لا

Artinya: “Hadits yang di dalamnya ada satu rawi atau lebih yang gugur (tidak disebutkan) secara berurutan di awal sanad, begitu pula halnya dengan rawi seterusnya juga gugur atau tidak gugur“.

Dapat ditarik kesimpulan bahwa hadis yang rantai sanadnya memiliki satu rawi maupun keseluruhan rawi yang tidak disebutkan, artinya itu disebut hadis muallaq.

Terkadang tidak disebutkan awal sanad, tetapi akhir sanad saja, terkadang juga hanya disebutkan sahabat saja atau bersama tabiin. 

Macam-macam Hadits Muallaq

Selanjutnya kita akan membahas mengenai beberapa macam hadis muallaq.

  • Hadis yang sanadnya dihapus keseluruhan mulai dari awal sampai akhir, sehingga yang disebut hanya, “Qala Rasulullah…”.
  • Hadis yang hanya disebutkan nama sahabat.
  • Hadis yang hanya disebutkan nama sahabat dan nama tabiin.

Contoh Hadits Mu’allaq dan Artinya

Berikut ini merupakan beberapa contoh hadits muallaq.

1.

قال أبو موسى غطى النبي صلى الله عليه وسلم ركبتيه حين دخل عثمان

Artinya: Abu Musa berkata, “Nabi Muhammad Saw. menutupi kedua lututnya ketika ‘Utsman datang.”

2.

عن ابن عباس وجرهد ومحمد بن جحش عن النبي صلى الله عليه وسلم الفخذ عورة

Artinya: Dari Ibnu ‘Abbas, Jarhad dan Muhammad bin Jahsy, dari Nabi Muhammad Saw.: “Paha adalah urat.”

3.

وقال أنس حسر النبي صلى الله عليه وسلم عن فخذه

Artinya: Anas berkata, “Nabi Muhammad Saw. membuka pahanya.”

Abu Musa berkata:

4.

غَطَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رُكْبَتَيْهِ حِينَ دَخَلَ عُثْمَانُ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menutupi kedua lututnya ketika Utsman masuk”.

5.

اللهُ اَحَقُّ اَنْ يُسْتَحْيٰى مِنْهُ مِنَ النَّاسِ

Allah lebih berhak dijadikan tempat merasa malu daripada manusia“. (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Berikut merupakan penjelasan dari hadits terakhir di atas.

Sanad yang terdapat pada riwayat imam Abu Dawud, yaitu dari Abdullah bin Maslamah, dari ayahnya, dari Bahz bin Hakim, dari ayahnya, dari kakeknya, dari nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam.

Sanad yang terdapat pada riwayat imam Tirmidzi, yaitu dari Ahmad bin mani, dari muadz bin muadz dan Yazid bin Harun, dari bahas bin Hakim, dari ayahnya, dari kakeknya, dari Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam.

Namun kemudian imam Bukhari menghapuskan beberapa rawi dalam riwayatnya dan langsung terhubung dari Bahz bin Hakim, dari ayahnya, dari kakeknya, dari Nabi SAW.

Beberapa contoh hadits di atas merupakan hadits shahih imam Bukhari. Pada hadis tersebut hanya disebutkan nama sahabat, beliau tidak menyebutkan nama-nama perawi lainnya. Artinya, beberapa contoh hadis tersebut termasuk pada kategori hadis muallaq.

Namun hadis mu’allaq pada Shahih Bukhari disebutkan hanya di bagian mukadimah bab sehingga tidak termasuk hadis yang pokok. Oleh karenanya, hadis-hadis muallaq pada kitab shahih Bukhari tidak berarti mengurangi kualitas dari kitab tersebut.

Hukum Hadits Mu’allaq pada Kitab Shahih Bukhari Muslim

Pada dasarnya, hadis muallaq masuk pada kategori hadits dhaif, kecuali jika memenuhi syarat tertentu seperti yang telah disebutkan di atas. Selain itu, hadis muallaq juga bukan termasuk hadis dhaif jika terdapat pada kitab yang kesahihannya telah dipastikan, seperti kitab Shahih Bukhari dan kitab Shahih Muslim.

1. Dihukumi Shahih

Jika hadis diriwayatkan secara jelas dan tegas yakni dengan sifat jazm (kata kerja aktif), misalnya: qala (ia berkata), dzakaro (dia menyebutkan), dan haka (dia bercerita), artinya hadis tersebut dihukumi shahih.

Hadis-hadis tersebut tetap memiliki kedudukan yang tinggi karena memiliki status sebagai hadits Shahih, sehingga tetap dapat menjadikan hadis Shahih tersebut sebagai pedoman dan rujukan.

2. Ada kalanya Shahih, Hasan, dan Dhaif

Jika hadis tersebut diriwayatkan menggunakan sighat tamridh (kata kerja pasif), misalnya qiila (dikatakan), dzukiro (disebutkan), atau hukiya (diceritakan), maka tidak semuanya dihukumi Shahih. Ada hadits muallaq yang dihukumi shahih, hasan, dan dhaif.

Demikianlah penjelasan tentang hadits muallaq yang bisa kamu pelajari. Semoga bermanfaat.

Baca juga: Hadits Mutawatir: Pengertian, Jenis, dan Contohnya

Serunya Al-Qur'an Boot Camp Saat Liburan